Berita

[Berita][bleft]

Excel

[Excel][bleft]

Internet

[internet][twocolumns]

Menikahlah Anakku



Saat menjelang sore tiba tak seperti biasa aku pulang lebih awal. Dan sampainya dirumah dengan berbenah dan setelah mandi aku duduk santai diteras rumah bersama ibuku. Dengan awan yang gelap akan mendung serta angin yang menghembus. Awalnya hanya bercanda gurau sambil santai bersama dengan adikku yang wanita, namun seteleh adikku masuk kedalam rumah hanya tinggal aku dan ibuku. Namun setelah kami lama bercanda berdua tiba-tiba ibuku mengatakan kepadaku yang pernah kupikirkan dalam anganku suatu saat.

Dengan nada yang lembut Ibuku mengatakan : “Cepatlah menikah anakku, kumpulkanlah rezekimu untuk melamar”. Aku hanya bisa terdiam, terheran dan sedikit bingung, karena hal ini yang kedua kalinya ibuku meminta lagi kepadaku untuk hal tersebut, hingga dalam hati berbicara “ga seperti biasanya hal seperti ini disampaikan kepadaku”. “kenapa ibu bertanya seperti itu kepadaku?” sambutku kembali. Kemudian ibuku menjelaskan : “Anakku, ibu ingin sekali engkau segera menikah, ibu selalu saja ditanya oleh sahabat-sahabat pengajian ibu saat kami mengaji, tapi ibu belum bisa menjawabnya dan hanya bisa terdiam, ibu ingin pertanyaan itu segera ada jawabnya, hingga membuat hati ibu menjadi tenang”.

Kalimat yang ibuku lontarkan sangat benar-benar menyentuh perasaan hatiku hingga kedalam, namun aku menjelaskan dengan apa adanya, “duhai ibuku tersayang, anakmu ini ingin sekali membahagiakanmu, anakmu ini ingin sekali memberikan yang terbaik untukmu, aku ingin sekali mengikuti perintahmu, karena perintahmu adalah amanah untukku,... Namun ibu sendiri kan sudah mengetahuinya, aku sudah berusaha sekuat tenagaku untuk menabung untuk bekal melamar kelak untuk calon istriku. Ibu juga tahu, aku pernah memiliki uang yang cukup saat itu, saat ini aku belum mampu untuk melaksanakannya, karena uang itu telah aku berikan kepada adik perempuanku yang ingin sekali melanjutkan sekolahnya keperguruan tinggi serta membayar kuliahnya, dan aku tak tega melihat keinginannya yang begitu besar hingga ia menangis dipelukku.. aku juga telah bertanggung jawab atas uang kuliahnya pula. Dan saat ini uangku hanya sedikit dalam tabungan. Ibu, Semua rezeki yang kudapatkan aku sisihkan untuk keluarga kita, membayar kuliah serta kebutuhan kita sehari-hari. Semua telah kulakukan bu untuk kita sekeluarga, karena aku bertanggung jawab atas hal itu, karena aku kepala keluarga saat ini. Aku ingin memberikan yang terbaik buat kalian semua sebelum aku melanjutkan hidup dengan wanita pilihanku. Anakmu ini ingin berbakti kepadamu bu saat ini dengan yang terbaik yang kumiliki dan adik-adikku. Ibu, bukan semata-mata aku melalaikan kewajiban agama itu terhadapku, aku ingin sekali segera menikah, namun aku telah berusaha semampuku.

Sambut ibu “maaf ya nak, ibu tahu apa semua itu, ibu tahu lelahmu dalam gelapnya malam saat kau pulang. ibu paham keadaanmu, ibu mengerti kerja kerasmu, Ibu mngerti caramu yang telah membuat ibu bahagia, Ibu paham semua tanggung jawabmu terhadap keluarga ini sangat besar, ibu hanya mengeluarkan unek-unek dipikiran ibu kepadamu.” Hingga akupun terkaca dalam kesedihan didalam hati namun menahan air mata yang ingin keluar, hingga tersimpan dalam hati. Dan aku katakan “Oh ibu, biarkan Allah yang mengatur segala rezekiku kelak, hingga berjalan apa adanya, suatu saat pasti akan kukabulkan amanahmu, kita hanya bisa berusaha dan berdoa.”

Tak terasa ternyata adzan magrib berkumandang, dan kami pun menghentikan pembicaraan tersebut. Namun rintihan hati ini tak dapat dibohongi hingga bercampur dengan kesedihan. Kuambilkan wudu’ ku hingga Sholat, dan memohon dan meminta pada Sang Khalik, akan perasaanku dan perasaan ibuku. Agar segera mengabulkan permintaan ibu tercinta. Demi kebahagiannya dan kebahagiaan aku.


Cerpen by : alif_tara

1 komentar:

  1. hm....cerpen yg bgus n menyentuh....
    jika seandainya itu nyata, tuhan tolong berikan yg terbaik baginya....

    BalasHapus