Surat Untuk Ibunda

Kadang hari jadi demikian melelahkan, ibunda, ruang menujumu tiba-tiba saja terasa luas dan jauh,
ingin ananda ceritakan tentang sayap-sayap yang tak henti belajar terbang,
mencari setiap celah untuk memperpendek jarak mempersempit ruang,
ingin ananda ceritakan tentang wangi kelopak sepanjang jalan, biru langit, hembus angin dan warna pucuk-pucuk hijau,
mengumpulkan keindahan dalam telapak untuk dibawa pulang ke pangkuan,
berharap bisa menghapus letih kening dan sudut mata bunda.


Sesungguhnya tak jarang langkah ananda tersandung batu terhalang badai,
tapi bekal yang bunda sampirkan sejak dulu selalu bisa menghantar ananda ke seberang.

Kadang kabut sama sekali nyaris tak tertembus, ibunda, perjuangan melewatinya tiba-tiba saja kehilangan tenaga,
ingin ananda ceritakan tentang ketakutan-ketakutan dan mimpi buruk menjelang tengah malam,
tentang kegamangan dan keraguan setiap kali jembatan dan pintu menghadang di depan mata,
tapi percayalah bekal yang bunda titipkan di bahu selalu bisa mengisi kekosongan, menguatkan dan menegakkan kembali wajah ananda.

sSeperti pesan bunda,
ananda belajar dari rumput yang tegar untuk selalu tumbuh,
ananda belajar dari tetes hujan di atas batu yang tawakal berikhtiar.

Tak pernah mudah, ibunda, tak pernah,
jika sesekali ananda berhenti,
ananda ingin bunda tahu bukan untuk menyerah,
tapi menerjemah hikmah dan menelaah diri sebelum berjalan lagi.

Tak pernah mudah, ibunda, memang tak pernah,
tapi ananda tak gentar,
sebab cinta dan doa bunda terbukti jadi energi tak berbatas yang tak pernah kehabisan cahaya dalam setiap langkah ananda.

Salam ananda untukmu ibunda tercinta,
Dari anakmu yang akan menemani tanpa letihku hingga ajalku.


0 komentar: