Xandria




Sebuah desa terpencil abad ke 18 dalam sebuah hutan yang luas bermukim sebuah suku dengan dua prinsip yang berbeda, sehingga mereka memisahkan diri diantara keduanya karena masa lalu yang suram. Suku Merah dan Suku Hitam, itu yang biasa disebutkan antara kedua suku tersebut, karena perbedaan itu jelas terlihat dari pakaian serta ikat kepala yang dikenakan mereka. Dan saat ini jarak antara kedua suku telah ditetapkan sehingga cukup jauh dengan pembatas sebuah sungai yang lebar serta hutan belantara yang rindang, agar perselisihan dapat dikurangi. Namun dengan adanya perdamaian yang dilakukan untuk kesekian kali oleh para sesepuh dan ketua adat tersebut maka ditetapkan antara kedua suku tersebut maka saat ini tak ada pertikaian dan perselisihan lagi diantara kedua suku, walaupun sebahagian warga Suku Hitam masih kurang simpati dengan Suku Merah.

Xandria adalah gadis berambut panjang dengan jiwa kepahlawanan yang tinggi, tomboi namun masih terlihat sisi keanggunannya sebagai seorang wanita, pemberani dalam menindak keadilan di sukunya, yang kini beranjak usia yang cukup matang. Di usianya yang 28 tahun ini, ia masih saja suka bermain dengan para warga sekitar karena keramah tamahan serta kemurahan senyumnya. Tak ada satu orangpun pria yang mampu mengalahkannya dalam beradu pedang, karena ia sangat ahli sekali.

Saat ini xandria tinggal bersama nenek kesayangannya yang usianya kini telah renta. Namun selalu saja menasehati xandria setiap pagi dan malamnya. Karena nenek tersebut yang merawatnya dari bayi hingga ia tumbuh dewasa. Tegur sapa xandria membuat warga dari suku merah menyukainya, hingga keberanian xandria membuat tak ada satu pria pun yang berani mendekatinya untuk mempersuntingnya.

Suatu saat di Suku Merah mengadakan pesta adat di desa mereka dan mengundang para warga dan Sesepuh Suku Hitam untuk menghadiri acara tersebut. Dengan rasa senangnya pada hari acara tersebut para Sesepuh serta para warga lainya di suku hitam menghadirinya dengan berbondong-bondong untuk melihat. Para ketua adat menjamu para Sesepuh dan ketua adat Suku Hitam dalam sebuah tempat yang disediakan oleh Suku Merah, namun setelah berbincang-bincang dengan santai para ketua adat serta sesepuh Suku Hitam tak berlama-lama berada acara yang meriah tersebut, kemudian mereka permisi kambali terlebih dahulu. Namun para warga lainnya para Suku Hitam masih menikmati pesta yang telah disediakan hingga semuanya terlarut dalam pesta.

Entah apa yang terlintas dalam benak salah seorang Suku Hitam, hingga terjadi perselisihan. Dimulai saat para penonton pesta menghalangi pandangan dari Suku Hitam tanpa disengaja, mereka mendorong salah seorang warga Suku Merah hingga terjatuh. Memang warga Suku Merah Terkenal oleh seluruh negeri dengan Keegoisan serta Kerasnya watak mereka, hingga mereka tak mau mengalah. Warga lainnya dari Suku Merah pun berusaha untuk melerai perkelahian mereka. Namun Suku Hitam yang lainnya ikut dalam perkelahian, hingga semuanya antara warga kedua suku terjadi perkelahian hebat. Yang membuat lebih parah adalah, warga Suku Hitam selalu membawa senjatanya kemanapun mereka pergi, sehingga saat ini terjadi peperangan yang sangat besar terjadi di Desa Suku Merah. Suku Merah tak menyadari akan adanya pertempuran ini karena mereka tak pernah di dalam desa membawa senjata kecuali para penjaga pintu gerbang serta para prajurit yang mengawasi desa.

Pesta adat tersebut saat ini telah terjadi pertumpahan darah yang sangat besar, antara kedua suku benar-benar dalam kemarahan yang mengobarkan jiwa kesetiawakan dan kepahlawanan mereka. Para Suku Hitam yang cukup banyak dikala itu menghadiri pesta adat membuat para Suku Merah kalang kabut karena tak mempersiapkan diri jika hal ini dapat terjadi. Pertumpahan darahpun jatuh dengan jumlah yang banyak si kubu Suku Merah. Peperangan pun terjadi dengan hebatnya di desa yang kecil itu, pertempuran, perkelahian diantara mereka tidak dapat dihentikan. Setelah merasa cukup berkurang banyak karena tewas dan menderita luka Suku Hitam barulah mereka melarikan diri menuju hutan untuk kembali ke Desa mereka

Salah seorang dari Suku Merah segera menemui xandria di kediaman rumahnya. Dan dengan secepatnya ia mendatangi perkampungan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Xandria panik dan bingung saat melihat para warganya banyak yang tewas dan terluka parah karena ia datang terlambat disebabkan menemani neneknya yang masih sakit semakin parah.

Sebuah kemarahan besar di perasaan xandria saat itu, ia menangis melihat ratusan mayat serta puluhan warga Suku Merah yang terluka. Jeritan tangis anak dan rintihan airmata seorang istri menyelimuti isi seluruh kampung saat itu. Para sesepuh serta ketua adat mereka sangat menyesalkan perbuatan mereka yang telah menodai dan menghianati perjanjian perdamaian yang dilanggar oleh Suku Hitam. Saat itu menjadi sebuah sore yang kelabu, pertumpahan darah di Desa itu menjadi selimut kelam bagi Suku Merah dan Xandria. Tak ada lagi mimik wajah yang indah pada sore itu, tak satupun yang diam, karena disibukkan untuk mengangkat mayat-mayat dan korban yang terluka. Suasanya yang sangant mencekam dan berkabung di hari itu. Kesedihan yang menyayat hati sang Xandria membuatnya tak kuasa dengan semua yang terlihat oleh matanya.

Saat para Suku Hitam tiba di pemukiman dan mendengar berita ini, Kepala suku dan Sesepuh Suku Hitam terheran dan sangat marah besar kepada warga tersebut yang baru kembali. Sesepuh sungguh tidak percaya mendengar kabar ini, hingga mereka kecewa dan bingung kenapa ini harus terjadi. Kemudian Ketua Suku memerintahkan kepada seluruh prajurit dan warga untuk bersiap untuk mempersiapkan senjata perang serta segera membentuk formasi perang.

Tak tahan melihat semua ini, xandria kembali kerumah untuk berpamitan dengan neneknya untuk mendatangi Suku Hitam, namun niat Xandria itu dihalangi oleh neneknya dan ia terus meyakinkan Xandria bahwa kedatangannya ke sana merupakan suatu kekonyolan besar karena akan mati sia-sia di hadapan prajurit Suku Hitam yang tangguh. Terlebih lagi pasukan mereka yang lebih besar tiga kali lipat dari Suku Merah membuat akan menjadi ketidakmungkinan saja menurut neneknya sambil ia menangis melihat cucunya tersebut. Setelah bersiap dengan perlengkapan dan baju perangnya Xandria terpaku dan terdiam sejenak hingga menetes air matanya jatuh membasahi pedang ditangannya, dan ia terkenang akan sesuatu. Ia pun memeluk neneknya dengan erat seakan jadi pelukan terakhir baginya, tanpa maksud untuk tidak mematuhi neneknya tersebut. Ia terus menangis di dekapan neneknya sambil mengucapkan “ nenekku sayang, jika memang ini takdirku, biarkan aku temui takdirku itu, jika ini memang jalanku, biarkan kulalui jalanku, jika sampai disini umurku, biarkan aku mati dalam dalam perang membela Sukuku. Nek, izinkan aku terus memelukmu saat ini dan jangan lepaskan. Izinkan aku pergi untuk melakukan apa yang aku lakukan. Aku akan berikan yang terbaik untukku dan Sukuku. Sekian lama ia memeluk neneknya tersebut kemudian ia lepaskan dari dekapanya dan kemudian mencium kening neneknya dan tangan beliau, hingga tetesan airmata Xandria membasahi tangan neneknya.

Xandria pun berdiri dan melepaskan tangan neneknya dan bergegas, namun tangan Xandri tak dilepaskan oleh neneknya, xandriapun tak kuasa menahan eratnya genggaman tangan itu, tak berpaling sedikitpun wajah Xandria hingga ia berusaha melepaskannya dengan ketegaran yang sangat besar.

Sore itu juga xandria pergi sendirian mendatangi Suku Hitam, menyusuri hutan dan sungai dengan kuda kesayangannya si putih Hake yang perkasa. Mulai berkobar semangat Xandria, semakin besar kebulatan tekadnya hingga memacu kudanya dengan cepatnya. Diperjalanan ia terkenang lagi suatu cerita yang tak terlupakan hingga membuat dia membuat rencananya menjadi lebih yakin. Hutan yang hijau dan teduh itu menjadi saksi perjalanan Xandria yang pemberani itu menyusuri dengan lantangnya.

Kedatangan Xandria sudah terdengar dari Suku Hitam, namun yang terpikirkan oleh mereka adalah kedatangan seluruh pasukan dari Suku Merah. Suku Hitam bersiaga penuh dengan tanpa sedikitpun lengah. Telah lama ia menunggu, munculah dari hutan sosok wanita hebat itu yang kelihatan dari jauh dengan secepatnya, ia memacu kuda dengan menghunuskan pedang di tangan kanannya. Para prajurit suku Hitam meniupkan terompet tanda perangnya. Namun sedikit heran mengapa hanya seorang saja yang terlihat. Pemberi kabar memberikan informasinya kepada Kepala Suku Hitam tentang kedatangan seseorang tersebut, namun Kepala Suku tetap pada rencananya untuk berperang walau apapun yang terjadi, karena Kepala Suku dan Sesepuh takut itu hanya sebuah trik dari Suku Merah.

Xandria pun masuk ke dalam perkampungan dengan lantangnya, ia berusaha menerobos barisan prajurit Suku Hitam. Ratusan panah yang di tujukan ke Xandria membuatnya tak gentar sedikitpun hingga ia dapat mengelak dan menepis dengan pedangnya, Lemparan tombak Suku Hitam dapat hindarkan oleh hebatnya cara ia menunggangi kudanya. Sepanjang lorong jalan di perkampungan ia lalui, ia lewati semua prajurit di hadapannya. Satu persatu senjata Suku Hitam hampir mengenai tubuh wanita itu. Elakan demi elakan dari datangnya panah, pedang dan tombak, namun Suku Hitam tak peduli dan berusaha untuk membunuh Xandria. Satu panah telah tertancap di punggung baju perang Xandria, walau tujuannya belum sampai. Dengan bidikan dari ahli pemanah Suku Hitam, buur itu tertancap lagi di tangan Xandria, namun Xandria tetap pada haluannya untuk melorongi jalan di perkampungan tersebut. Hingga pada ujung jalan saat hampir sampai ke tujuan, kaki kuda Xandria dan membuat larinya melambat, namun Xandria berusaha untuk meyakinkan tunggangannya tersebut, ia pun mengelus kudanya dengan tersenyum. Sebelum tibanya ke tempat para Kepala Suku dan Sesepuh Suku Hitam, Tebasan Pedang Suku Hitam mengenai kaki Xandria hingga tetasan darahpun tertumpah.

Dengan pantang menyerah, ia melewati semuanya hingga tiba ke suatu hutan kecl tempat paling belakang dari Desa Suku Hitam, tempat tersembunyi namun Xandria dapat menemuinya, hingga para sesepuh suku Hitam mengejarnya.turunlah Xandria dari kudanya, tapi lemparan pedang ia terima saat itu, dengan linanganan mata yang berkaca ia menepis pedang itu dan menancapkannya ketanah. Kamudian Xandria mengeluarkan pedang dari sarungnya dan menancapkan pula ke sebuah makan yang telah usang. Mereka pun terheran mengapa bisa berbuat demikian. Jatuhlah airmata Xandria ke tanah makam tersebut hingga ia pun tertunduk dan bersimpuh. Namun beberapa orang dari Sesepuh dan Kepala Suku Hitam tiba-tiba tertunduk menjatuhkan lututnya, melepaskan semua senjata mereka. Mereka melihat sebilah pedang indah nan kokoh dan kalung yang enakan oleh Xandria.

Ternyata makan yang di datangi Xandria adalah makam ayahnya, seorang kesatria besar dan pemimpin suku sebelum mereka terpecah menjadi dua. Dan Xandria adalah satu-satunya anak tunggal yang menghilang. Cerita itu juga pernah ada di dengar oleh semua sesepuh suku, namun hari ini mereka menemui dan menghormatinya. Kebisuan Xandria dalam tangis telah dimengerti oleh mereka. Cerita yang telah disimpan Xandria belasan tahun kini jadi kenyataan, yang diceritakan oleh neneknya. Semua misteri diantara kedua suku juga telah jelas sudah.

Sejak kejadian itu kedua suku dipersatukan kembali menjadi sebuah keluarga yang besar, tak ada perbedaan. Xandria pun menikah dengan diantara pemuda Suku Hitam. Mereka memimpin sebuah suku yang besar sekarang, dan Xandria adalah pemimpin bagi kaum wanitanya.(t)


0 komentar: