Bangku Tunggu



Apa yang dirasakan jika penantian ini tak tahu akan berhujung kemana. Itulah yang dirasakan pada laki-laki yang cukup matang itu, Abby nama lelaki lelaki itu, kini usianya telah beranjak dua puluh tujuh tahun tahun. Ia seorang yang pendiam, selalu menyimpan segala sesuatu didalam hatinya saja.

Sudah sejak satu tahun ini ia menunggu kereta api yang jarang sekali melewati stasiun di daerah kampungnya karena cukup jauh dari rumah Abby. Lingkungan yang sangat jarang sekali di kunjungi oleh orang-orang, hingga terlihat sepi adanya. Hari ini ia kembali lagi ke stasiun kereta api dan duduk dibangku tunggu seperti biasa, dengan harapan kereta itu akan datang. Lelaki itu datang sejak fajar menyingsing di pelupuk timur, dan membawa tas dan buku novel kesayangan untuk menemaninya dalam penantian di hari itu. Laki-laki itu cukup sabar dengan penantian yang cukup panjang, namun hanya setahun terakhir ini ia saja yang benar-benar cukup serius untuk menanti kedatangan kereta itu di stasiun.

Tak ada seorangpun yang tau bahwa Abby akan pergi ke stasiun. Dan tak ada yang mengetahui seorangpun dari teman-teman terdekatnya juga bahwa ia telah sering mendatangi stasiun itu, namun hanya seorang penjaga stasiun yang mengetahui bahwa Abby sering datang berkunjung kestasiun. Abby simpan rahasianya itu dengan baik dihatinya.

Duduk seorang diri sambil membaca buku, sesekali ia berdiri dan melihat kearah jalur kereta, dengan harapan akan segera muncul asap dan suara menderu kereta datang. Abby selalu duduk didepan tepat berada dipertengahan pemberhentian kereta dengan alasan lebih nyaman berada bangku itu.

Abby seorang laki-laki yang pantang menyerah, telah delapan tahun ia mengenal gadis pujaan hatinya itu dan menanti untuk didapatkan oleh Abby, namun walau tanda dan ketidakpastian itu belum diketahuinya. Gadis itu tidak pernah mengatakan kepada Abby kalau akan ia akan menemui kembali kepada Abby dan merajut cinta dalam pernikahan yang Abby inginkan sejak lama bersama gadis itu. Dalam delapan tahun pengenalan bersama gadis itu namun hanya satu tahun ini ia benar-benar ingin memilikinya karena usia yang telah dirasa cukup matang. Walau ketidakpastian itu tak terjawab dalam benak Abby, namun hati Abby yang tetap dalam kesabaran itu senantiasa terjaga hingga saat ini. Dan Abby juga tak mengatakan kepada gadis itu kalau dia akan menanti gadis itu. Komunikasi antara Abby dan gadis yang telah lama ia kenal kini sekarang terputus, surat dan puisinya telah dikirimkan kepada gadis itu namun tak pernah ada balasan dan tanggapan yang membuat pertanda untuk Abby. Namun Abby yakin dengan perasaan hatinya itu bahwa ia takkan pernah menyesal untuk menanti gadis yang ingin dinikahinya itu. Maksud Abby adalah jika sesampainya gadis itu untuk menemuinya maka akan diungkapkan segala isihatinya kepada gadis itu. Karena sebuah kata yang masih tersimpan dalam benak Abby adalah saat gadis itu pernah mengatakan kepadanya bahwa saat waktunya akan kembali padanya.

Setelah cukup lelah ia menunggu dan penuh berbalut keringat di bajunya terdengarlah suara kereta api melaju tiba ke stasiun itu. Ia masih terasa tenang hingga kereta itu berhenti tepat di stasiun. Abby beranjak dari bangkunya sambil melihat jendela satu persatu dan kepintu kereta api.  Namun tak satu orang pun yang ia kenal, dan tak melihat gadis itu berada dalam kereta. Setiap kali melihat penumpang telah habis keluar dari pintu kereta membuat hatinya semakin gusar. Hal itu membuat hati Abby sangat sedih, namun ia selalu tabah karena bukan kali pertama ia menunggu kereta itu. Abby pun terduduk kembali di bangku kesayangannya, sambil menundukkan kepalanya dengan penuh kesedihan yang mendalam.

Setelah lama berhenti di kereta itupun berangkat pergi meninggalkan stasiun, namun Abby tak pernah kuasa melihat kepergian kereta karena yang ia tunggu tak ditemuinya. Setiap saat kereta telah tiada ia selalu bertanya dalam hati kecilnya, benarkah yang ia lakukan, seribu tanya selalu melintasi pikirannya. Lelaki yang sederhana itu sebenarnya ingin menghentikan perbuatannya itu, karena ia telah cukup lelah dengan apa terjadi dan tanpa kepastian, namun hati kecilnya tak dapat dikalahkan sehingga keyakinan itu telah menutupi segala kelelahannya. Abby tak pernah mampu untuk menatap kereta yang melaju meninggalkannya karena gadis harapannya saat ini tidak ditemuinya kembali, hingga kereta pun semakin menjauh hingga tak terlihat barulah Abby berani mengangkat kepalanya kembali, namun tak disadari Abby telah meneteskan airmatanya yang telah menjatuhi buku jari jemarinya. Air mata yang selalu jatuh saat kepergian kereta. Bukan air mata kecengengan lelaki, tapi air mata penantian laki-laki penyabar, airmata kelelahan, airmata kesetiaan, airmata keihklasan dan ketegegaran. Karena itu yang dapat mengobati rasa rindunya.

Hari ini sebuah perjuangan sirna kembali, sama halnya seperti hari-hari sebelumnya. Namun rahasia penantiannya itu tetap ia simpan didalam lubuk hatinya terdalam. Setelah suasana hening di sekitar, Abby berdiri dangan menghela nafasnya dan menghapus matanya yang masih berkaca-kaca. Ia besarkan kembali hatinya untuk menyongsong hari esok, iapun berjalan keluar dari stasiun untuk beranjak kembali pulang kerumahnya dengan jiwa yang kosong.

Lelaki yang sabar itu berjalan dengan tenangnya, dan memberikan motivasi kepada hatinya kembali untuk tetap tegar dan tetap setia menantinya hingga waktu yang belum dapat ia tentukan. Namun keihklasan penantiannya masih terjaga baik didalam lubuk hatinya yang terdalam.


0 komentar: